Mitos Tentang Stroke di Masyarakat Kita

Jusamazonplus.com – Mitos-mitos tentang stroke yang masih sering beredar di masyarakat dan itu mungkin bisa saja salah menafsirkannya, dan itu bisa membahayakan nyawa seseorang. Penyakit stroke jangan pandang sebelah mata. Sebab penyakit satu ini merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker. Tapi saat ini masih banyak mitos seputar stroke di masyarakat kita yang bisa membuat pengobatan stroke terhambat.

Mitos-mitos tentang stroke yang masih sering beredar di masyarakat dan itu mungkin bisa saja salah menafsirkannya. Penyakit stroke jangan anggap enteng. Sebab penyakit satu ini selain merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker juga menjadi malapetaka kebangkrutan harta benda seseorang. Namun masih banyak mitos seputar stroke di masyarakat yang bisa membuat pengobatan stroke terhambat.

Mitos-mitos tentang stroke yang ada di masyarakat

Mitos Tentang StrokeBerikut ini beberapa mitos tentang stroke yang perlu Anda ketahui, seperti dirangkum dari berbagai sumber (detikhealth).

1. Hanya Dialami Orang Tua

Mitos-mitos tentang stroke yang ada di masyarakat hanya dialami oleh orang tua atau yang sudah lanjut usia. Masih banyak orang yang percaya stroke cuma dialami oleh orang-orang yang sudah berusia tua. Jangan salah, stroke juga bisa menyerang orang-orang muda lho. Setidaknya, ini seturut pengalaman dr Priscilla Ryanti Andradi, SpS. “Menurut pengalaman praktik saya sebagai spesialis saraf dan juga teman-teman, stroke bergeser dari yang tadinya usia 60 tahun ke atas ke lebih muda. Sering ada pasien yang usianya 30-an, 40-an dan 50-an tahun,” kata dr Priscilla beberapa waktu lalu. Menurut dr Priscilla, stres dan gaya hidup tidak sehat menjadi faktor penyebab serangan stroke. Makanan yang diasup juga berpengaruh terhadap penyakit ini.

2. Menusuk Jarum di Ujung Jari

Mitos-mitos tentang stroke yang ada di masyarakat dengan menusuk jarum di ujung jari. Mungkin Anda pernah menerima pesan berantai tentang pertolongan pertama pada orang yang kena stroke dengan cara menusukkan jarum ke ujung jari yang bersangkutan. Kata dr Priscilla, secara medis dan praktik tidak ada korelasinya antara menusukkan jarum ke ujung-ujung jari dengan mengatasi stroke. Dia meyakini upaya ini lebih untuk menjaga kesadaran pasien dan bukan untuk mengatasi strokenya. Dokter spesialis saraf Eka Hospital BSD, dr Herianto SpS mengaku pernah menemui beberapa pasien stroke yang telah ditusuk jarum di bagian tubuh tertentu. “Banyak juga pasien yang ke sini itu banyak bekas tusukan yang dibilang hilangkan darah kotor itu. Katanya itu sebagai pertolongan pertama, tapi nggak tahunya kondisi makin parah, baru dibawa ke rumah sakit,” ucap dr Herianto.

3. Stroke Ringan Tidak Perlu Dibawa ke Dokter

Mitos-mitos tentang stroke yang ada di masyarakat kalau stroke ringan jangan bawa ke dokter dulu. Jika gejala stroke yang muncul tidak terlalu parah, masyarakat menyebutnya stroke ringan, seringkali tidak dibawa ke dokter. Anggapan stroke ringan tidak berbahaya sebaiknya jangan dipelihara, sebab ringan sekalipun, stroke jangan sampai diremehkan. Karena jika penyumbatan di otaknya hanya sedikit tapi tidak langsung segera mendapat perawatan dokter maka bisa menjadi berat. Atau bila pembuluh darah yang pecah sudah meluas maka bisa membuat pasien tidak tertolong. Ingat, keberhasilan pengobatan stroke sangat dipengaruhi oleh waktu. Dengan mendapatkan pertolongan yang benar, maka kerusakan di otak akibat stroke bisa diminimalkan.

4. Sulit Dikenali Gejala Mula-Mula Stroke

Mitos-mitos tentang stroke yang ada di masyarakat sulit dikenali. Seringkali pasien stroke datang terlambat ke rumah sakit. Umumnya karena sebagian besar pasien dan keluarganya tidak mengenali gejala stroke. Apakah stroke memang sulit dikenali? Dokter Rizaldy Pinzon, MKes, SpS dari RS Bethesda Yogyakarta menuturkan tanda stroke bisa dikenali menggunakan FAST, yang merupakan singkatan dari Facial Weakness (kelemahan wajah), Arm Weakness (kelemahan lengan), Speech Disturbances (kesulitan bicara), dan Time is Brain (Berpacu dengan waktu). “Di dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Senyum, Gerak dan Bicara,” terang dr Pinzon beberapa waktu lalu melalui tulisannya. Dokter Pinzon menyarankan Anda melakukan hal ini:

  • Senyum: Mintalah ia untuk senyum, lihat apakah wajahnya perot.
  • Gerak: Mintalah ia untuk mengangkat lengannya apakah bisa sama tinggi
  • Bicara: Tanyakan nama dan alamatnya, apakah ia bisa mengerti, apakah bisa menjawab, apakah jawabannya benar, apakah bicaranya pelo atau cedal.

5. Stroke Tak Dapat Dicegah

Mitos-mitos tentang stroke yang ada di masyarakat mengatakan stroke tidak dapat dicegah. Sebenarnya 80 persen stroke dapat dicegah. Caranya adalah dengan mengontrol faktor risiko penyebab stroke. Salah satu cara mencegah stroke terjadi lagi adalah memperhatikan asupan makanan.

“Cara pengobatan untuk pasien yang sudah terkena stroke sama seperti tindakan pencegahan stroke itu sendiri, yaitu mengubah pola hidup, kurangi garam, hindari makanan berlemak, daging merah, perbanyak makan sayur, buah dan minum air putih,” kata Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM beberapa waktu lalu. Selain itu, mengontrol tekanan darah juga merupakan hal yang sangat penting. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko terkena stroke 4 hingga 6 kali lipat. Tak hanya itu, merokok juga harus dihentikan sebab bisa memicu penggumpalan darah. Kadar kolesterol yang tinggi juga harus dikendalikan karena dapat memicu pembentukan plak atau penimbunan lemak di pembuluh darah.

Add Comment